WASTRA INDONESIA TALK SHOW : MAKNA KAIN DALAM TRADISI UPACARA MITONI, 25 AGUSTUS 2018

WASTRA INDONESIA TALK SHOW : ‘MAKNA KAIN DALAM TRADISI UPACARA MITONI’

Dalam Budaya Jawa ada beberapa Upacara Tradisional,  yang sangat kental dengan siklus kehidupan manusia, dari mulai dalam kandungan ibundanya, dilahirkan, menikah dan sampai meninggal, Oleh karena itu UNESCO menyatakan pengakuannya terhadap Batik ‘Jawa”, karena Batik sangat erat hubungannya dengan upacara tradisinya.

Pada tanggal 25 Agustus 2018 DR.Ir. Indra Tjahjani berbagi tentang Makna Kain ‘ dalam Tradisi Upacara Mitoni atau Upacara Usia Kandungan 7 bulan, yang dilaksanakan pada anak pertama saja.

Berikut adalah dokumentasi kegiatan tersebut :

Sebenarnya dalam pemilhan kain bukanlah harga mati, namun biasanya dipilih kain-kain yang mempunyai makna khusus dan sesuai dengan upacara yang dilakukan.

Pada acara binsang-bincang ini Dr. Ir. Indra Tjahjani memilih 7 Wastra berikut :

\1. WAHYU TUMURUN, dengan makna semoga sang jabang bayi mempunyai karir yang baik

2.  NITIK CAKAR, dengan makna semoga sang cabang bayi pandai mencari nafkah (seperti ayam yang mencakar/mengais-ngais kakinya saat mencari makan).

3. UDAN LIRIS, mempunyai makna akan keseimbangan dan bijaksana

4. KESATRIAN, maknanya agar sang jabang bayi mempunyai seifat kesatria.

5. SIDO MUKTI , semoga sang jabang bayi hidupnya akan bahagia

6 . BABBON ANGREM, (dalam bahasa Jawa Babon adalah induk ayam, yang mempunyai kebiasaan mengeram telur dan melindungi anak-anaknya dibawah sayapnya). maknanya agar si jabang bayi bertanggung jawab terhadap keluarganya.

Setelah berganti pakaian 6 kali dan para pini sepuh yang hadir dalam upacara ini menyatakan sang calon ibu tidak pantas dengan pakaian-pakaian tadi, maka sang calon ibu berganti pakaian dengan kain tenun sederhana, yaitu kain :

7. LURIK TUMBAR PECAH atau LURIK LASEM, Disaat sang calon ibu mengenakan Lurik para pini sepuh mengatakan pantas, padahal Lurik adalah kain rakyat yang murah harganya apabila dibandingkan Batik yang mahal.

Adapun maknanya agar sang jabang bayi nantinya dapat hidup sederhana tidak harus bermewah-mewahan.

 

 

Advertisements